Rokok Kretek dalam Sejarah Budaya Indonesia

Rokok kretek adalah rokok rasa cengkeh, ketika dibakar dan dihisap muncul bunyi kretek kretek dari hasil pembakaran tembakau yang bercampur dengan cengkeh. Untuk kebanyakan masyarakat Indonesia terutama Jawa, bagi pecinta tembakau tentu rokok adalah teman yang sangat menyenangkan dan berselera tinggi. Rokok ini bagi pecintanya dianggap dapat memberikan perasaan lega bahkan bisa memberikan relaksasi maka dari itu dalam soal harga bukan apa-apanya dibandingkan dengan kenyamanan yang diberikan.

Para perokok juga mendapatkan beberapa manfaat dari Rokok kretek yaitu peningkatan konsentrasi, energi tambahan dan meningkatkan mental ‘kekuatan’ untuk menghadapi situasi sulit, menyembuhkan kebosanan dan relaksasi. Aspek-aspek ini dapat diringkas menjadi dua manfaat:

  1. Merokok adalah menenangkan dan santai.
  2. Membantu perokok berkonsentrasi dan berpikir jernih.

Bisa dikatakan mengisap kretek dapat membantu mengurangi stres dan membantu orang-orang untuk lebih santai. Fakta dari para perokok adalah ketika ditanya mengapa terlalu sulit berhenti merokok. “Saya tidak bisa berhenti, saya terlalu stress.” Adalah sebuah kalimat yang umum diucapkan oleh banyak perokok setiap hari. Dan ketika di situasi kritis dan cemas, perokok mungkin akan ‘butuh’ sebatang rokok untuk menenangkan saraf.

Sejarah Singkat Rokok Kretek

Menurut sejarahnya rokok ini ditemukan oleh Haji Djamari yang sebelumnya menderita batuk dan asma. Karena putus asa untuk menyembuhkan penyakitnya, dia menggunakan campuran tembakau dengan cengkeh yang dihancurkan dan digulung dengan daun jagung kering atau klobot, ini adalah rokok kretek asli. Dan setelah mengisap kretek ini ia sembuh dan menjadi sehat. Hingga produk ini menyebar luas dari sanak saudara dikenal sebagai rokok obat di masyrakat.

Kala itu kretek milik Haji Djamari dijual secara per ikat berisi sepuluh batang tanpa kemasan. Namun produk rokok ini tanpa merek dagang bahkan hingga tahun 1890 Haji Djamari meninggal rokok inipun menghilang tak diketahui sejarahnya. Hingga sejak saat itu masyarakat hanya tahu bahwa itu adalah kretek, disinilah produk asli tercipta.

Dalam budaya merokok ada sejarah terkenal dan melegenda yaitu Rokok kretek Tjap Bal Tiga, meskipun jauh sebelumnya dalam cerita rakyat Indonesia telah ada legenda Roro Mendut. Produk rokok ini adalah milik seorang pria asal Kota Kudus bernama Nitisemito, kira-kira 50 km sebelah Timur dari kota Semarang di pada awal 1906.

Nitisemito secara resmi mulai memproduksi rokok kreteknya dengan merek dagang Bal Tiga pada tahun 1908. Dia secara aktif memasarkan dengan promosi melalui radio, menyebar selebaran-selebaran di berbagai tempat bahkan touring dengan musik dan penari. Ia menjadi seorang pria pebisnis sangat sukses, seorang miliarder. Langkah ini diikuti oleh banyak orang lain dan segera menjadi industri yang menjamur juga di kota-kota lain. Sayangnya nasib Nitisemito sebagai bapak Kretek ini berakhir tragis, ia pun bangkrut pada tahun 1953, jatuh oleh industri besar yang diciptakannya.

Perkembangan Rokok Kretek Pada Saat Ini

Sekarang industri rokok telah mengalami ‘modernisasi’. Produk baru kretek filter lebih mendominasi dalam hal pasar, rokok ini terbuat dari campuran cengkeh yang lebih bahkan esensi cengkehnya telah berubah. Rajangan cengkeh dipakai untuk mempertahankan suara pembakaran kretek: tek, tek, tek, dari sini muncul nama kretek. Produsen rokok kretek yang pernah terkenal dalam hal ini adalah Djambu Bol, Sukun, Nojorono, Djarum (di Kudus dan Jawa Tengah), Bentoel (di Malang), Gudang Garam (di Kediri) dan Sampoerna (di Surabaya). Ada juga produsen yang lebih kecil, seperti Menara ( Solo), Pompa (di Semarang), dll. Lebih dari 95% dari perokok lokal lebih suka kretek daripada rokok putih atau tanpa cengkeh.

Tak seorangpun menyangkal bahwa industri rokok kretek memberikan jumlah besar pada pajak negara dan jutaan orang menggantungkan mata pecaharian mereka. Hal ini bagai sebuah rantai bisnis, mulai dari petani tembakau dan petani cengkeh, pekerja di pabrik-pabrik, penjual di banyak toko-toko atau warung dan transportasi ikut terlibat dalam industri ini. Hal ini dapat menjadi tumpuan dan sangat berharga untuk menghidupi keluarga mereka.

Para Ahli Tembakau

Perusahaan rokok kretek menyerap banyak tembakau. Pembeli – terutama produsen rokok, mereka mempekerjakan beberapa para pecinta rokok kretek, ahli tembakau, untuk menjamin kualitas produk mereka. Tidak diragukan lagi keahlian khusus mereka. Hanya dengan mencium daun tembakau basah atau memotong daun tembakau kering, penikmat berkualitas tinggi sudah tahu dengan tepat asal tembakau tersebut. Mereka mengetahui mana tembkau dari Wonosobo, Magelang atau Boyolali (Jawa Tengah) atau dari Besuki (Jawa Timur), dan tahu tahun panen tembakau pada setiap pengujian. Pengujian ini amat penting untuk menaksir biaya karena harga berbeda dari masing-masing daerah ke daerah.

Mungkin ini sebagai alasan utama para perokok mengapa mereka tidak dapat atau tidak akan berhenti merokok karena mereka merasa kretek akan memberikan teknik mengatur stres yang sangat efektif. Mitos-mitos rokok kretek yang lain adalah ‘menghilangkan kebosanan.’ Argumen ini begitu sia-sia bahwa hampir tidak mendapatkan banyak perhatian. Ya, beberapa orang percaya bahwa menghilangkan kebosanan, tetapi bukan dengan membenturkan kepalamu ke dinding dan menusuk diri dengan garpu. Memang tidak cukup baik untuk menangani situasi ini sendiri. Rokok kretek seolah berkata dan meyakinkan kita: “saya akan mengurus itu”.

Leave a Reply