Psikologi Seni Dan Mempelajari Proses Persepsi

Psikologi seni adalah topik yang kompleks. Jika kita berbicara tentang seni tak akan pernah habis jika dihubungkan dengan psikologi. Karena segala aktifitas seni adalah sumbangan dari sisi psikologis yang ada di dalam jiwa seorang seniman. Tidak ada sebuah seni tanpa psikologi, begitu juga sebaliknya karena ia adalah dasar dari beberapa aspek kehidupan.

Wujud ekspresi seni yang dominan dan melibatkan psikologi seni dapat kita lihat melalui bentuk apapun, tetapi yang terlihat nyata adalah melalui seni patung dan lukisan. Keduanya didasarkan pada teori dan pengertian psikologis. Seorang pelukis mengawali ekspresinya dengan sebuah kanvas kosong, lalu dia memproyeksikan kondisi jiwa seninya pada coretan di atas kanvas tersebut. Sedangkan dari sisi psikologisnya sebagai media proyeksi tersebut. Sehingga seni dapat didefinisikan sebagai media untuk mengekspresikan jiwa dari individu yang kreatif sehingga dapat dilihat.

Ya, dengan cara inilah seni berhubungan erat dengan psikologi. Namun, psikologi seni sebagai disiplin ilmu yang formal belum mendapatkan pengakuan yang luas. Meskipun pada akhirnya mendapatkan popularitas di universitas-universitas di beberapa negara barat. Sebenarnya psikologi seni adalah bidang studi yang cukup menarik. Di dalamnya kita dapat menganalisa inti kreativitas serta memberi penjelasan tentang bagaimana proses mental seniman sebagai individu kreatif.

Psikologi ini tidak hanya terbatas pada proses pemahaman mental seniman saja tapi juga proses mental yang terlibat dalam memahami seni

Selain memberikan penjelasan mengenai proses mental seniman, fenomena kreativitas dan proses pemikiran dari indera penglihatan. Psikologi seni juga melibatkan berbagai cabang psikologi misalnya:

  • psikologi persepsi
  • psikologi bentuk dan fungsi/keteraturan
  • kompleksitas
  • psikoanalisis Jung
  • psikologi perhatian
  • simbolisme Freudian.
  • psikologi Eksperimental

Hal ini komprehensif dalam pendekatannya tidak hanya karena berbagai penjelasannya, tetapi juga karena psikologi seni melibatkan penjelasan dari berbagai cabang di atas. Meskipun masih ada beberapa aspek lainnya yang merujuk pada pendapat beberapa ahli psikologi. Namun ini bisa menjadi satu dalam sebuah karya, sebab proses menjadikan sebuah karya melibatkan seluruh indera yang dimiliki oleh seniman.

Teori Gestalt

Sifat Psikologi Seni dan Fungsinya

Psikologi ini sifatnya saling ada keterikatan antara psikologi yang satu dengan yang lainnya. Di dalamnya terdapat psikologi yang memadukan seni arsitektur, filsafat, estetika, visual dan psikoanalisis. Para intelektual di abad ke-20 banyak mempengaruhi munculnya psikologi seni yang bergerak melampaui proses berpikir para pelaku seni. Untuk itu mereka mulai memasukkan proses penciptaan psikologi yang lebih baru tentang persepsinya. Hal yang dilakukan adalah menguji seni dari aspek Sosial, Psikologis, Biologi dan Filosofis. Dengan tujuan agar teorinya dapat diterima dan sesuai.

Jika kita melihat karya seni ilusi visual, orang awam mungkin akan terheran-heran dan takjub akan kehebatan seniman itu. Tetapi segalanya dapat dijelaskan tentang seluruh proses penciptaannya melalui studi psikologi seni. Dalam hal ini tentang bentuk dan struktur seni. Kita bisa merujuk pada teori persepsi visual beberapa psikolog abad ke-20.

Teori-teori psikologi seni mereka secara sistematis mempelajari proses persepsi pada manusia. Proses tersebut melibatkan bukan hanya objek tetapi juga konteksnya. Hal ini karena persepsi objek dipengaruhi oleh benda-benda di sekitar benda-benda ini. Sebagai seni juga terutama tentang persepsi, persepsi kita akan benda seni juga bergantung pada prinsip Gestalt. Dan kita cenderung melihat kontinuitas atau penutupan atau bahkan melihat pergerakan benda-benda statis. Dalam hal ini psikologi Gestalt telah digunakan secara luas untuk menggambarkan dan memahami ‘ilusi visual’

Psikologi Seni Dalam Teori Gestalt

Para penganut teori Gestalt memiliki teori yang akan dapat menjelaskan tentang penciptaan dan persepsi seni. Dengan demikian dalam psikologi seni para penganut teori Gestalt dapat menggambarkan persepsi sebagai sebuah proses yang melibatkan objek dan konteksnya. Karena persepsilah objek bisa dipengaruhi oleh benda-benda lain yang terdapat di sekitar benda-benda itu. Sehingga para Gestaltists selalu berpendapat bahwa benda lain selalu lebih banyak daripada jumlah bagian yang utama. Bahkan teori ini bisa membuat persepsi bahwa sebuah benda statis bisa bergerak.

Karya Psikologi Seni

Psikologi seni ala gestalt ini telah digunakan secara luas untuk memahami dan menggambarkan sebuah karya ilusi visual. Karya-karya seperti ini bisa menggambarkan sebuah obyek yang berdekatan satu dengan lainnya dianggap sebagai sebuah kelompok. Sebuah psikologi seni sama layaknya seperti persepsi, dalam hal ini termasuk juga ilusi sebab ia juga merupakan proses penciptaan. Ada sebagian yang menganggap ilusi visual seperti sulap.

Seni mempunyai beberapa dimensi tersendiri dalam studinya. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan struktural tentang memahami fitur seni dan fungsinya. Atau Anda dapat mencari pengetahuan seperti ini dalam psikologi seni yang saling berkaitan, cobalah mempelajari psikoanalisis dan simbolisme.

Dari seorang filsuf John Dewey dan psikoanalis Carl Gustav Jung, banyak mempengaruhi munculnya psikologi seni. Mereka berdua sama-sama mempengaruhi studi seni dalam sisi budaya dan sosial. Termasuk juga yang bertanggung jawab pada pemahaman seni dalam konteksnya saat ini yang secara sistematis mempelajari proses persepsi manusia. Kita bisa ambil contoh beberapa ahli gestaltist yang terkenal yaitu Kurt Koffka, Wolfgang Köhler, Max Wertheimer serta Kurt Lewin. Prinsip persepsi dalam psikologi Gestalt berfokuskan pada kedekatan, kontinuitas, kesamaan, simetri, penutupan dan area.

Leave a Reply