Budaya Banyuwangen Janger, Gandrung dan Seblang

Budaya Banyuwangen artinya adalah budaya yang berasal dari Banyuwangi. Wilayah ini adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang terletak di ujung timur pulau Jawa.

Tidak banyak pengaruh budaya masuk wilayah yang kadangkala diberi nama bumi Blambangan ini. Banyuwangi bagian barat di kelilingi pegunungan, bagian selatan dan pada bagian timur adalah laut. Jadi wilayah ini tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh budaya Mataraman atau budaya dari luar Banyuwangi. Pengaruh yang paling kuat mempengaruhi budaya Banyuwangen selain Jawa juga pengaruh Bali dan Madura.

Pengaruh Bali paling terlihat di Banyuwangi karena dalam sejarahnya kadipaten Blambangan pernah menjadi satu pemarintahan dengan kerajaan Bali. Itu terlihat dari aneka ragam kasenian dan kebudayaannya. Orang Banyuwangi atau sering disebut Lare Osing paling bangga dengan budaya Banyuwangen mereka yang berbeda dengan wilayah Jawa lainya. Banyuwangi mempunyai kesenian yang unik yaitu hasil perpaduan antara budaya Jawa, Islam dan Bali. Kesenian mereka kerap menjadi wakil dari Jawa Timur pada perayaan tingkat nasional.

Campuran Budaya Banyuwangen dengan Kesenian Lain

Pada tingkat lokal tradisi khas Lare Osing adalah Janger. Kesenian ini kerap disebut Damarwulan, Damarulan atau Jinggoan. Janger Banyuwangen ini pada awalnya berasal dari drama Andhe-andhe Lumut yang telah tersebar luas di pulau Jawa. Kemudian kesenian Andhe-andhe Lumut ini pada tahun 1920an dipadukan dengan kesenian tari Arja dari pulau Bali.

Kesenian campuran ini lalu diberi nama Jangeran dan dipentaskan di panggung-panggung perayaan. Kesenian ini fungsinya bertambah di zaman perang kemerdekaan. Banyak para pejuang yang menyamar jadi pemain Janger supaya Belanda dan para mata-mata tidak tahu penyamaran mereka. Hal ini dijadikan cara untuk mencari informasi yang nantinya disebarkan kepada para pejuang.

Janger atau Dhamarulan atau Jinggoan ini lalu tersebar luas di seluruh wilayah Banyuwangi. Bahkan penyebaran kesenian ini meluas hingga wilayah Malang. Pada tahun 1950an kesenian Janger disebarkan oleh orang-orang Banyuwangi yang pindah di daerah Malang.

Janger Sebagai Budaya Banyuwangen

Kesenian Janger Banyuwangi

Kasenian Janger ini intinya menceritakan lakon Damarwulan dan Minakjingga. Lakon Minakjingga dalam budaya Banyuwangen digambarkan sebagai raja yang adil, bijak dan memperjuangkan kemerdekaan Blambangan dari cengkeraman Majapahit. Dia digambarkan dengan wajah yang ganteng tidak seperti gambaran Minakjingga dari cerita versi Majapahit.

Ciri khas dari kesenian ini adalah tata busana, tata gamelan dan bahasa yang diucapkan. Kostumnya mengadaptasi tata busana penari Arja dari Bali. Gamelannya menggunakan gamelan Bali tapi lagu yang dipentaskan adalah lagu-lagu Banyuwangen. Dialognya menggunakan bahasa Jawa halus seperti pada kesenian kethoprak Jawa. Lakon Janger ini diawali dengan tari-tari yang berasal dari budaya Banyuwangen sendiri dan Bali. Misalnya ada pementasan tari Pendhet atau Legong Keraton. Ada juga pementasan tari Gandrung Punjari atau Jaran Goyang, tapi lazimnya menggunakan tari Panyembrama tarian khas Bali.

Pada saat pementasan Janger diawali dengan dua tarian, yang sebelumnya dibuka dengan Gunungan dan Hewan-Hewan. Kemudian pergantian sesi ditandai dengan suara petasan banting. Pagelaran budaya Banyuwangen Jangeran ini dimulai dari jam 9 malam hingga berkokoknya ayam di waktu Subuh. Gamelan yang digunakan kesenian Janger ini tidak beda dengan Gamelan Bali yaitu Gong, Kecrek, Kendhang, Kethuk, Reong dan Paron. Terkadang pada beberapa pertunjukan ditambah Biola, Jidor dan Angklung sebagai ciri khas kesenian Osingnya.

Pada pementasan Janger ini juga ada sesi Gara-Gara seperti dalam Wayang kulit Jawa. Gara-gara ini berupa hiburan lawak untuk menyegarkan suasana pada pertengahan acara. Biasanya isi lawakannya bertema hal-hal sederhana yang dianggap lucu. Dialognya ringan dengan bahasa sehari-hari yaitu bahasa Osing bercampur bahasa Indonesia. Salah satu grup Janger paling terkenal di Banyuwangi adalah Madyo Utomo dari desa Banje, grup Patoman dari desa Blimbingsari kecamatan Rogojampi. Selain dua kelompok budaya Banyuwangen ini ada banyak grup Janger yang tersebar di seputar Banyuwangi.

Pada zaman dulu para tokoh wanita pada kesenian Janger diperankan oleh para pria yang mengenakan kostum wanita. Karena pada jaman dahulu wanita sangat tabu untuk ikut serta dalam pertunjukan budaya Banyuwangen. Tetapi seiring berubahnya jaman, para tokoh wanita Janger akhirnya diperankan oleh wanita. Sehingga pertunjukan seni Janger semakin menarik dan dipentaskan secara komersil sebagai hiburan yang disewa oleh orang-orang kaya pada acara pernikahan, khitanan atau perayaan lainnya di Daerah Banyuwangi.

Gandrung Sebagai Ciri Khas Budaya Banyuwangen

Tari Gandrung Banyuwangen

Arti kata Gandrung adalah jatuh cinta atau senang sekali, atau dalam bahasa Indonesia berarti tergila-gila. Gandrung sebagai budaya Banyuwangen sudah menjadi ciri khas hiburan di sana. Asal-usul kesenian Gandrung ini agak samar karena sejak abad 19 sudah ada penari Gandrung dan terkenal di zaman itu. Pada jaman dahulu penari Gandrung diperankan oleh orang pria yang menggunakan pakaian wanita tapi tingkah lakunya genit menyerupai wanita yang lemah gemulai pada saat menari. Menurut budaya Banyuwangen wanita pertama yang menari Gandrung bernama Semi pada tahun 1895. Semi yang konon masih berumur 10 tahun itu terkena penyakit yang tak kunjung sembuh. Kemudian ibunya berjanji jika Semi sembuh akan dijadikan penari Seblang. Tapi jika ia tidak bisa sembuh dari sakitnya berarti batal menjadi Seblang.

“Adhung siro waras sun dyadekeno Seblang adhung osing yo sing”

Artinya: “Jika kamu sembuh aku jadikan Seblang jika tidak ya tidak” lalu Semi sembuh dan kemudian Semi dijadikan penari Seblang.

Dari kisah tersebut, Semi telah menggabungkan budaya Banyuwangen yang bernama Seblang dengan Gandrung di zaman itu. Seblang adalah kesenian mirip tari Gandrung tetapi kostumnya berbeda dan memiliki unsur magis. Kemudian pada tahun 1973 Semi meninggal dunia. Gandrung pria terakhir tercatat pada tahun 1914. Tari Gandrung ini memiliki ciri khas penari, menggunakan mahkota bernama omprok. Mahkota ini bercorak tokoh wayang Antasena putra Bima berupa kepala raksasa dengan tubuh naga. Kostum penari Gandrung terbuka pundaknya, memakai kelat bahu, kain batik dengan corak Gajah Oling dan kaos kaki warna putih sebagai khas budaya Banyuwangen. Selain itu Gandrung menggunakan selendang dan kipas.

Sebenarnya tari Gandrung termasuk satu rumpun dengan Jaipong, Tayuban, Lengger, tari Bumbung dan Yapong tapi dengan gayannya masing-masing. Musik pengiring pada tari Gandrung menggunakan Biola, Kendhang, Kempul, Kethuk dan Kluncing atau Triangle. Pementasan kesenian tari dari Budaya Banyuwangen ini dimulai sehabis Isya atau jam 9 malam hingga menjelang subuh. Kesenian Tari Gandrung banyak dipentaskan pada perayaan-perayaan kesenian atau hajatan misalnya khitanan, perkawinan dan Pethik Laut.

Ciri Khas Tari Gandrung Banyuwangen

Acara dimulai dengan jejer yang menjadi pambuka pentas ini. Selain menari Gandrung mereka juga harus bisa menyanyi. Jadi seorang penari Gandrung tidah hanya harus pandai menari tetapi juga harus mampu menyanyi sambil menari. Lagu atau gendhing dalam bahasa dan langgam khas budaya Banyuwangen. Gendhing-gendhing Gandrung tidak cuma diambil dari lagu-lagu Seblang yang sudah kuno tapi bisa saja dari lagu-lagu yang sedang populer.

Salah satu gendhing yang terkenal adalah Gandha Arum, lagu-lagu Bali atau dangdut pada saat ini. Tapi lagu-lagu dari ritual Seblang tetap dipertahankan. Karena itu menjadi cikal bakal hiburan budaya Banyuwangen yang beda dengan hiburan tembang Jawa dan Bali. Gendhing Gandrung biasanya hanya terdiri dari empat baris, dinyanyikan dengan cara pendek atau cara panjang.

Ngibing atau Mbeso

Sehabis jejer diteruskan dengan acara ngibing atau mbeso dalam istilah Osing. Awalnya para penari Gandrung ini membawa baki yang dipakai untuk tempat uang saweran. Setiap acara kesenian Gandrung, saweran berlaku juga untuk budaya Banyuwangen. Biasanya para pria kaya duduk dideretan penonton paling depan, kemudian penari melemparkan ujung selendangnya atau menghampirinya dan mengalungkan selendangnya pada pria yang dituju. Pada budaya Banyuwangen hal ini sudah lazim.

Hal itu menandakan orang tersebut mendapat penghormatan menari berpasangan dengan gandrung atau mbeso sambil nyawer penari Gandrung. Pengibing boleh maju bersama hingga empat orang sekaligus. Para pengibing akan menambah semaraknya acara budaya Banyuwangen ini. Tak jarang tangan jahil para pengibing melecehkan penari. Jika hal itu terjadi maka menjadi tugas Panjak atau pengiring gamelan yang memegang Kluncing yang melerai agar tidak kisruh.

Akhir Acara Tari Gandrung

Jika waktu sudah mulai menjelang subuh, Gandrung menutup pentasannya dengan tarian Seblang Subuh. Di sini Gandrung menari pelan-pelan dan kadang menggunakan kipas seperti penari Bali. Terakhir dengan nyanyian budaya Banyuwangen bertema sedih mendayu-dayu yaitu Sekar Jenar Jenang yang liriknya seperti ini:

Sekar sekar jenar
Maundhang dhadhari kuning
Agung alit yo gemuruno
Kawulo nyuwun sepuro

Lagu di atas adalah lagu permohonan maaf oleh rombongan penari Gandrung jika sengaja atau tidak telah menggoyahkan iman para penonton, kemudian pentas berakhir. Dalam budaya Banyuwangen membuat khilaf orang lain pun harus minta maaf.

Perkembangan Tari Gandrung dan Seblang

Zaman dulu Gandrung hanya boleh ditarikan oleh keturunan penari sebelumnya tapi sekarang bisa oleh siapa saja; pria maupun wanita yang suka boleh belajar salah satu budaya Banyuwangen ini. Hingga sekarang tari Gandrung ini banyak dikembangkan menjadi tari kreasi baru seperti Jejer Jaran Dhawuk. Tari ini sekarang menjadi mata pelajaran ekstra kurikuler wajib di sekolah-sekolah wilayah Banyuwangi. Ini dimaksudkan supaya para generasi muda Banyuwangi mencintai budaya Banyuwangen yang tidak diketahui mulai kapan tari Seblang ini pertama kalinya dipentaskan.

Tapi ada cerita mengatakan jika tari atau budaya Banyuwangen ini sudah diadakan beberapa abad yang lalu. Sebenarnya tari ini dipentaskan untuk mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa dan untuk tolak balak. Sejarah tari ini mulai jelas saat bocah kecil bernama Semi di tahun 1895 terkena penyakit. Lalu ibunya bernadhar jika Semi sembuh akan dijadikan Seblang nah ternyata sembuh dan janji ini harus ditepati.

Dalam tari Seblang, penari yang akan pentas harus ditutup matanya oleh pawang dari belakangnya. Pawang biasanya seorang wanita. Kemudian pawang membakar kemenyan dan membaca mantera-mantera agar penari kerasukan. Dalam ritual budaya Banyuwangen ini, sebelumnya penari memegang tempah kosong jika sudah kerasukan tempah tadi terjatuh dan penari segera ditolong oleh pawang dari belakangnya agar tidak terjatuh. Setelah ada suara Gamelan yang hanya Kendhang, Saron dan Kempul dibunyikan dan Sinden yang rata-rata sudah tua mulai bernyanyi.

Dimulai dari Seblang Lukinto kemudian penari yang sudah kerasukan mulai menari mengikuti irama kendhang. Tapi tetap harus dikawal oleh sang pawang. Kadangkala Seblang diarak keliling desa. Budaya Banyuwangen yang berbau mistik ini justru menjadi pentas menyenangkan. Tapi yang paling menarik dari kesenian Seblang ini pada waktu mulai menari, Seblang melempar gulungan sampur kearah penonton. Yang terkena lemparan selendang atau sampur harus mau menari bersama. Jika tidak, Seblang akan mengejar hingga orang itu mau menari.

Kapan dan Dimana Kesenian Seblang Dipentaskan?

Pementasan Seblang ini hanya digelar di dua desa saja yaitu desa Bakungan dan desa Olihsari, kacamatan Glagah. Bedanya di Bakungan yang menjadi Seblang harus perempuan yang sudah tidak haid dan diadakan sehabis Idul Adha. Kalau di desa Olihsari ditarikan oleh gadis yang belum baligh dan dipentaskan seminggu sehabis hari raya Idhul Fitri. Semua penari Seblang dipilih melalui wangsit oleh pawang dan harus keturunan Seblang. Hanya bisa berharap agar budaya budaya Banyuwangen ini takkan pernah mati. Anna

  • 11
    Shares

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.