Bagaimana Sosial Media Merubah Budaya

Tak bisa di pungkiri bahwa sosial media merubah budaya dan perilaku masyarakat saat ini. Dengan berbekal gadget yang memungkinkan kita untuk tetap up to date dan selalu bisa mengetahui semuanya dengan mudah apa yang sedang terjadi di dunia dan sekitar kita.

Bahkan, hingga saat ini kita seolah membenarkan tagline dari sebuah brand gadget yang menyatakan bahwa dunia dalam genggaman kita. Sebuah kotak pintar kecil itu telah merevolusi cara kita untuk mendapatkan berita, melacak perubahan budaya dan bersaing dengan teman-teman lama di sosial media.

Koneksi internet dan gadget ini menjadi seolah sesuatu yang sangat penting dan fatal bila tidak berada bersama kita. Apalagi setelah bermunculannya sosial media dalam dunia internet ini. Karena kotak kecil yang kita beli di jaman ini memungkinkan untuk bergerak dengan sangat cerdas. Dengan itu Anda bisa mentweet, dan memposting di Instagram, memfollow, pin, chat, email, edit dan bahkan hingga panggilan telepon. Tentu saja hal ini karena banyaknya aplikasi terbaru dan banyaknya pilihan untuk berkomunikasi serta berinteraksi. Hal ini sangat memungkinkan kita untuk menjadi ketagihan pada sosial media itu, terlibat lebih dalam dan terobsesi pada dunia maya.

Jika Anda telah terindikasi dengan hal-hal tersebut dalam lingkaran pertemanan di aplikasi tertentu. Atau bahkan secara psikologis dan secara emosi Anda lebih tergambar dalam emotikon daripada menghadapi keadaan secara nyata. Mungkin itulah saatnya untuk menjauhkan diri dari gadget Anda. Tentu saja dampak ini akan atau telah mempengaruhi kejiwaan Anda dalam berperilaku dalam budaya nyata ini.

Lalu, adakah yang salah dengan sosial media? Tidak. Karena kita tidak mungkin membendung inovasi teknologi. Untuk menyatakan “Say No at all” dengan media-media ini tidaklah semudah mengatakannya. Yang di harapkan hanyalah bentuk sikap bijak menghadapinya. Dampak sosial media merubah budaya masyarakat tampaknya sudah mencapai ambang batas.

Sosial Media Sebagai Self Reminder

Budaya masyarakat yang seperti apa sebenarnya yang telah berubah sejak adanya media-media ini. Apa yang kita sebut sebagai istilah budaya adalah kegiatan yang biasa kita jalani sehari-hari. Dalam hal ini jika kita hubungkan kaitannya adalah adanya perbedaan secara praktis antara masa sebelum adanya media-media itu dan setelah adanya media tersebut.

Ketika begitu banyak kebaikan dan keburukan yang disebarluaskan apa yang sebaiknya kita lakukan adalah menjadikan sosial media sebagai self reminder untuk kita. Karena dalam media tersebut sedikitnya terdapat hal-hal seperti saya sebutkan di bawah ini adalah :

  1. Merefleksikan kehidupan nyata kita
  2. 25% pengguna Facebook memalsukan informasi identitasnya sesuai standar yang mereka inginkan.
  3. Egosentris; membiarkan Anda menjadi narsis dengan mengunggah foto dirinya.
  4. Menjadi bagian dari sebuah komunitas, mengumpulkan orang-orang dan membagikan interest, pemikiran dan pengalaman yang sama.
  5. Pola perilaku baru, menyebarkan isu yang sedang terjadi, kita bisa mempelajari dan yang terpenting adalah bagaimana menghindarinya.
  6. Perilaku buruk, menyebarkan hoax, bullying dan vulgarisme.

Dampak Sosial Media pada Perilaku

Memang, dampaknya tidak hanya negatif tetapi tak terhitung juga hal-hal positif telah terjadi karena inovasi teknologi ini. Kita tidak hanya mempertahankan kehidupan nyata tetapi kehidupan virtual juga. Kita mengandalkan keadaan ini dengan cara yang tak terbayangkan, tetapi dengan terpaksa kita dapat merasakan bahwa ketergantungan ini sebenarnya diperlukan (mungkin).

Sosial Media Warning

Namun status kita sebagai makluk sosial sudah berevolusi menjadi operator akun di sebuah media sosial. Dan keberadaan kita di sosial media tersebut sebagai makluk maya yang mau tidak mau akan tunduk pada sistem yang berjalan di dalamnya. Tak terelakkan kita akan berjalan sesuai alur sistem yang telah di buat oleh sang programer. Dan di sinilah bermunculan masyarakat cyborg dengan berbagai kehidupan yang dijalaninya.

Akan selalu ada hal yang lebih besar lagi berikutnya dalam hal inovasi. Apakah kita terhanyut bersama dengan seluruh inovasi yang ada atau tidak sama sekali. Kita mendengar, melihat, menyerap dan berpikir bagaimana sosial media merubah budaya kita saat ini. Dan perubahan yang diakibatkannya sangatlah signifikan di masyarakat kita. Ya, tentu saja semua membuat kita kecanduan, karena terlalu terstimulasi dan terlalu terlibat jauh ke dalam. Dan tenggelam dalam hedonisme akut pada sosial media itu. Bahkan untuk tidurpun akan terasa rugi.

Dahulu misalnya para ibu rumah tangga bangun pagi aktivitasnya menyiapkan keperluan anggota keluarga yang akan sekolah. Bekerja atau lainnya tanpa harus memikirkan nanti setelah selesai harus mengabarkan pada siapa-siapa di dunia luar sana yang disertai foto sebagai tanda bukti. Tetapi saat ini adalah sebaliknya apapun yang kita kerjakan baik aktifitas dalam rumah ataupun di luar orang lain bisa mengetahui melalui update kita.

Masyarakat kita belum dapat memilah dalam menggunakan sosial media sebagai sesuatu yang akan membantu memudahkan kepentingan kita. Segala informasi akan tersebar dengan cepat baik itu sebuah kebenaran, pembenaran atau kesalahan. Selayaknya kita bijak menggunakannya mengingat begitu banyak kebaikan di dalam media ini. Katakanlah kita boleh saja dianggap sebagai makhluk anti sosial ketika kita berada dalam jejaring sosial tetapi setidaknya berada di sisi budaya yang baik.

Kesimpulan

Selalu ada hal yang baik dan buruk sebagai akibat perubahan budaya masyarakat. Tak terhitung jumlahnya kejahatan yang terjadi karena sosial media dan sebaliknya banyak juga hal baik yang berhasil dicapainya. Secara psikologis masyarakat Indonesia masih banyak yang salah kaprah dalam menerima inovasi ini. Tidak bisa kita pungkiri karena budaya kita masih berada pada strata manusia dunia ketiga sementara penemu sosial media adalah manusia dunia pertama. Jadi pemanfaatan sosial media sebagai sebuah penemuan yang diharapkan memudahkan pekerjaan kita ternyata masih belum dapat digunakan sebagai mana mestinya.

Setidaknya kita sebagai individu yang berakal ini harus menjadi subyek yang dapat mengendalikan arus deras itu.

Leave a Reply